Universitas
Pertahanan menyelenggarakan Kuliah Umum bersama Kepala Bursa Efek
Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Barat Bapak Reza Sadat Shahmeini, SE., MM.
Pada hari Rabu, 22 Mei 2019 di Gedung Auditorium UNHAN dengan tema
“Berinvestasi di Pasar Modal Sebagai Sarana Strategi Pertahanan Negara”.
Pelaksanaan kuliah umum dimulai pukul 09.00 WIB dan diawali dengan sambutan a.n
Rektor Universitas Pertahanan yang diwakili oleh Bapak Dekan Fakultas
Strategi Pertahanan.
Pasar modal
memiliki legalitas yang jelas di UU Pasar modal, sejajar dengan industri
perbankan serta berada dibawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jika
diibaratkan mall, bursa efek adalah pedagang-pedagang di mall tersebut. Jika
ingin membeli saham, maka membelinya adalah ke pasar bursa efek. Pasar modal
diperuntukkan bagi para investor yang merupakan penanaman modal yang
memanfaatkan penyimpanan dana untuk jangka panjang. Instrumen pasar modal
antara lain, EBA, keuangan, investasi dan lain-lain.
Alasan
yang mendasari pembentukan pasar modal adalah apabila perusahaan kecil
membutuhkan uang, maka dana pinjaman tersebut dapat diperoleh melalui pinjaman
teman, tetapi jika perusahaan membutuh uang dalam jumlah yang lebih besar
hingga miliaran, maka kebutuhan akan modal tersebut dapat dipenuhi dengan
menggandeng banyak orang, serta mendorong perusahaannya menjadi perusahaan go
publik yang mengajak banyak pihak dan masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan
fakta bahwa Hampir semua perusahaan besar di dunia merupakan perusahaan go
publik dan tidak menjadi perusahaan privat yang hanya dimiliki oleh beberapa
orang. Seperti google, facebook dan perusahaan besar lainnya.
Terdapat
peningkatan jumlah emitten baru di Indoensia. Ironinya, Bursa Efek Indonesai
yang diibaratkan sebagai mall tersebut ternyata tidak banyak masyarakat
indonesia yang mengerti cara membeli pasar saham dan obligasi, sehingga banyak
dikuasai oleh investor asing. Akibatnya adalah capital outflow,
keuntungan yang terbesar dimiliki oleh pihak luar. Seperti halnya yang terjadi
di BRI, pada daftar investor BRI pada saat ini adalah 56,75% dimiliki
pihak pemerintah, namun sisanya sudah dijual kepada non pemerintah. Dari 43,25
yang dijual kepada publik, sebanyak 34,23% saham dikuasai oleh pihak asing dan
8,87% lainnya dikuasai oleh masyarakat Indonesia. Hal ini seperti yang terlihat
melalui laporan tahunan dari PT Telkom yang mayoritas dikuasai oleh pihak
asing. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena masyarakat Indonesia tidak
paham cara beli saham, dampak buruk dari hal ini adalah nilai rupiah semakin
tertekan pada kondisi deviden. Pada saat ini pemerintah banyak menjual obligasi
dan surat berharga kepada masyarakat Indonesia dengan harapan supaya masyarakat
Indonesia berinvestasi untuk perusahaan Indonesia sendiri. Sehingga apabila
tarpaksa harus berhutang, maka hutangnya adalah kepada masyarakat. Misalnya
melalui ORI (Obligasi Retail Indonesia). Dengan demikian, maka keuntungan
maupun Capital
Outflow yang diperoleh juga akan mengalir ke pintu rumah masyarakat
Indonesia sendiri.
Dicontohkan
melalui program Yuk Nabung Saham yang diluncurkan oleh wakil presiden Jusuf
Kalla pada tahun 2015, menabung dalam bentuk saham lebih menguntungkan daripada
menabung dalam bentuk uang. Dengan berinvestasi di pasar modal lebhih berdampak
dan meningkatkan produktivitas serta nilai tambah sekaligus menjadi edukasi
kepada calon investor. Model investasi di pasar modal semakin dapat dijangkau
oleh masyarakat Indonesia dengan harapan pemegang saham dari perusahaan2 besar
dapat dimiliki oleh masyarakat Indonesia.
Dampak dari
kepemilikan saham oleh masyarakat Indonesia menimbulkan multiplier effect
yang luar biasa untuk pertumbuhan ekoonoomi di Indoneasia. Bukan hanya di
perusahaan BRI, tapi juga di Mandiri, BNI, Telkom, Pertamina dan perusahaan
besar lainnya. Melalui program Yuk Nabung Saham, rupiah menjadi lebih stabil
dan kesejahteraan masyarakat dapat meningkat serta berdampak pada stabilitas
pertahanan negara.
Saham adalah
bukti kepemilihan atas perusahaan. Perusahaan dapat membeli saham sedikit demi
sedikit sehingga lama-lama menjadi besar. Harga saham di bursa efek harian
memang selalu naik turun, namun selama perusahaannya memiliki kinerja yang
bagus, maka perusahaan tersebut akan tetap tambah besar dan harga sahamnya
naik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diharapkan akan selalu berwarna hijau
dan meningkat. Namun perlu diketahui bahwa saham pun tidak semuanya naik,
adapula saham yang turun dan merugi. Dari 600 saham yang ada, ada 363 saham
naik dan 237 yang turun. Oleh karena itu, diperlukan Cara nabung saham yang
tepat. Beberapa keuntungan memiliki saham adalah mendapat capital gain, yaitu
selisih harga jual dan harga beli, memperoleh deviden yaitu pembagian
keuntungan perusahaan saham yang dibagikan, mendapat bonus share yaitu bonus
kepemilikan saham, serta para pemegang saham bisa mengikuti rapat umum pemegang
saham (RUPS). Keuntungan lainnya adalah mendapat hubungan atau relation antar
pemegang saham.
Begitu pula
adanya peluang capital
lost atau potensi kerugian. Yaitu apabila harganya turun dan terpaksa harus
dijual lagi. Maka prusahaan mengalami potensi kerugian, hal ini dapat diatasi
dengan mewariskan saham kepada penerusnya. Untuk menentukan perusahaan yang
akan ditanamkan saham, Pertama harus dipilih dulu bibitnya, ada perusahaan yang
bagus dan ada juga perusahaan yang abal-abal. Misalnya akan investasi di
telkom, indosat dan XL, setelah 5 tahun hasilnya akan berbeda. Perlu dipelajari
terlebih dahulu perusahaan yang akan dibeli dan melihat laporan keuangan
tahunannya. Berinvestasi melalui bursa efek membutuhkan kesabaran. Dan perlu
memegang konsep bahwa tujuan hidup adalah untuk menjadi kaya, bukan agar
terlihat kaya. Jika seseorang membeli barang konsumtif, setelah dibeli harganya
akan turun. Namun apabila membeli barang investasi, setelah dibeli harganya
kana meningkat saat dijual, mislanya harga emas, tanah, dan rumah. Dengan
demikian Investasi adalah menunda konsumsi saat ini yang kurang bermanfaat
untuk membeli barang yang nilainya akan diputarkan demi masa depan yang lebih
cerah.
Investasi
secara fundamental tidak dipengaruhi oleh kondisi politik, namun Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) dipengaruhi oleh politik. Jika melihat melalui berbagai
litetur, politik sangat berpengaruh terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG)
yang bisa menjadi anjlok dan kondisi saat nuansa politik, dan akan kembali naik
setelah masa politik selesai.Kemudahan transaksi di pasar saham semakin mudah
dengan adanya aplikasi yang bisa didownload melalui gadged dan memudahkan dalam
transaksi di pasar bursa efek. Sistem keamanan di bursa efek juga dilengkapi
dengan keamanan siber agar tidak mudah di hack. Dan apabila bursa eek sedang
turun, maka pasar bursa efek dapat memilih untuk menutup pasar bursa selama
beberapa hari hingga kondisi perdagangan saham stabil kembali.

Komentar
Posting Komentar