Sobat, kalian pernah nggak sih
dalam kodisi yang terdesak? Misalnya pada
jam ketujuh tiba-tiba ada ulangan dadakan, 25 soal fisika yang sulitnya bukan
main, soal harus dikerjakan beserta dengan caranya, lalu dikumpulkan maksimal setelah
bel pulang sekolah berbunyi, bagi siswa yang nggak segera mengumpulkan setelah
bel pulang sekolah, nilainya dikurangi 5 poin, kalau ketahuan kerjasama dengan
teman, nilainya dikurangi 10 poin. Padahal, sebelum ulangan fisika tadi, kalian
udah ulangan matematika yang soalnya nggak kalah sulit. Selain itu, pada jam
ketujuh energi kalian udah mulai menipis, capek, perut laper, haus, udara gerah, ngantuk, tapi kalian dipaksa
berpikir mengerjakan ulangan. Yah, mau nggak mau kalian harus menggunakan sisa
energi yang ada berpikir mengerjakan soal dan meraih nilai yang minimal sama
dengan KKM. Kalau dalam istilah jawa, ini namanya kepepet, istilah kerennya kepepet
zone, artinya dalam keadaan itu kalian harus melakukan sesuatu sementara
kondisi fisik kalian tidak mendukung.
Nah, buat para sobat yang kadang
atau sering mengalami hal seperti ini, kalian jangan buru-buru nyerah dan
pasrah pada keadaan. PD aja kalau kalian bisa mengerjakan soal dengan baik dan
benar. Sebenarnya, zona kepepet mampu mendorong kita untuk melakukan usaha
maksimal, kadang-kadang hasilnya lebih baik daripada zona-zona yang lain. Nggak
percaya? Aku kasih contoh ya. Albert
adalah atlet olahraga renang yang masih amatir. Pada saat mengikuti kompetisi renang pertama kali, ia menduduki peringkat nomor tiga dari belakang. Kekalahan di kompetisi yang pertama ini membuatnya sedikit depresi. Akhirnya ia memutuskan untuk berlibur bersama temannya, Giovan dan Lucky. Pagi hari sekali, ia sudah siap hang out dari rumahnya.
adalah atlet olahraga renang yang masih amatir. Pada saat mengikuti kompetisi renang pertama kali, ia menduduki peringkat nomor tiga dari belakang. Kekalahan di kompetisi yang pertama ini membuatnya sedikit depresi. Akhirnya ia memutuskan untuk berlibur bersama temannya, Giovan dan Lucky. Pagi hari sekali, ia sudah siap hang out dari rumahnya.
Awal mula mereka menuju puncak
gunung untuk mendapat udara yang segar. Setelah sampai di puncak,
whuzzzzzzzz……… Albert dan kawan-kawan terjun ke bawah menggunakan parasutnya.
Selama hampir satu setengah jam mereka melayang di udara. Menikmati sensasi
udara bebas dan melepaskan semua penat. Tak puas dengan melayang di udara,
setelah mendarat mereka menuju danau bekas dermaga yang letaknya tidak jauh
dari gunung tersebut. Danau itu sangat sepi, tidak ada yang menjaga karena
memang tidak digunakan untuk tempat wisata. Disana Albert memancing ikan di
tepi papan yang biasanya digunakan kapal untuk berlabuh. Merasa beruntung,
Albert senang sekali saat kailnya dimakan ikan, ia berusaha menariknya, namun
ikan itu memberi perlawanan. Ia tidak menyerah, ia terus berusaha, yiaaaaaaaaaah,,,,, nasib naas
menimpanya. Byurrrrr. . . Bukannya
mendapat ikan besar, malah ia kecebur kedalam danau. Parahnya lagi, tak jauh
dari tempat ia kecebur ada buaya yang mengintainya.
Sementara itu, jarak papan kayu
dengan danau cukup tinggi. Giovany dan Lucky berusaha menolong, namun mereka
tidak bisa karena tidak ada tongkat atau peralatan lain untuk membantu Albert.
Kalau mereka berdua ikut nyebur,
nasibnya akan sama seperti sahabatnya. Sedangkan jarak buaya semakin dekat
dengan Albert. Karena nggak ada alternatif lain, Albert hanya bisa mengandalkan
kemampuannya. Ia berenang dengan kecepatan maksimal menuju tepi danau. Ia tidak
memikirkan hal-hal yang lain lagi. Jarak ke tepi danau yang cukup jauh tidak ia
hiraukan. Yang ada dipikirannya hanyalah keinginan untuk berenang cepat ke tepi
danau sebelum badannya ditangkap dan dicabik-cabik oleh buaya. Giovany dan
Lucky hanya melongo melihat temannya berenang ke tepian sambil dibuntuti buaya.
Kata-kata support lah yang saat itu mereka ucapkan. “Ayo Albert, kamu bisa
lebih cepat daripada buaya itu”.
Sekitar 10 menit kemudian, Albert
berhasil mencapai tepi danau dalam keadaan selamat dengan jantung yang berdetak
cepat. Giovany dal lucky senang karena teman mereka bisa selamat. “Luar biasa,
kau berenang lebih cepat daripada Markus yang memenangkan kompetisi kemarin”
kata Giovany sambil menunjukkan hasil timer tiga kali lebih cepat daripada
kecepatan sahabatnya saat kompetisi. “Bagaimana caranya kau bisa berenang
secepat itu?” tanya Lucky dengan kagum pada temannya yang masih ngos-ngos an
setelah bersaing dengan buaya.
Sobat, dari cerita tadi kita bisa
menyimpulkan bahwa kemampuan maksimal Albert muncul ketika ia berada dalam zona
kepepet. Dalam keadaan seperti tadi, mau tidak mau ia harus mengerahkan seluruh
kemampuannya. Jika tidak, maka nyawanya akan melayang. Nah, kalau Albert dalam
zona kepepet mampu berenang tiga kali lebih cepat dari biasanya, seharusnya
kalian pun dalam zona kepepet juga harus bisa mengeluarkan kemampuan yang lebih
baik. Kenapa kok bisa begitu? Karena, ketika berada di zona kepepet, pikiran
kalian hanya akan fokus pada satu tujuan. Kalian
tidak menangguhkan keadaan lingkungan yang kurang mendukung. Bahkan, kata-kata
orang lain pun kadang tidak ada artinya bagi kalian. Sebab yang kalian pikirkan
hanya satu. Yaitu bagaimana caranya bisa meraih tujuan kalian. Dengan disertai
keyakinan yang kuat, seluruh energi kalian akan terkumpul menjadi satu. Nah,
kalau pikiran kalian sudah fokus pada satu tujuan, keyakinan kalian sudah kuat,
usaha sudah double maksimal, ditambah dengan kemampuan dasar yang kalian miliki
sudah pasti hasil yang diperoleh akan lebih baik daripada biasanya.
Terbukti kan kalau zona kepepet bisa
memberi energi yang besar. Oleh karena itu, jangan buru-buru menyerah ketika
berada di zona kepepet, karena pada saat itulah kemampuan maksimal akan mucul
tanpa pernah diduga sebelumnya. Kuncinya, kalian harus fokus dan yakin seribu
persen. Okey...
Tetap semangat ya Sobat..
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus