Waktu terus berjalan. Tanpa
terasa, kini umat muslim sudah tiba di penghujung bulan Ramadhan. Hanya dalam
hitungan beberapa jam, seluruh umat muslim akan bahagia menyambut datangnya
hari raya Idul itri 1439 H.
Mengutip dari serambinews.com,
jika tidak ada aral, umat muslim di dunia, khususnya Indonesia dan Asia
Tenggara, akan menyelenggarakan Idul 1 Syawal 1439 H paada hari Jumat tanggal
15 Juni 2018.
Mengawali ucapan
menyambut hari raya Idul Fitri, dengan ini saya ucapkan “taqabbalallahu minna
wa minkum” semoga Allah menerima amal dari kami dan amal dari kalian. Aamiin.
Hari raya Idul Fitri
identik dengan hari raya kemenangan. Pasalnya, umat muslim telah berjihad akbar
sebelum hari raya tiba. Jihad tersebut tak lain adalah jihad melawan hawa
nafsunya sendiri. Dimana umat muslim menjalankan ibadah puasa di siang hari,
tadarus Al-Quran dan menjalankan sholat tarawih di malam hari. Setelah berpuasa
1 bulan di bulan Ramadhan, menahan lapar, dahaga, amarah, keinginan, dan
menghindari penyakit hati lainnya, kini tibalah saat untuk meraih hari
kemenangan.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا
غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa
melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka
dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”[1]
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ الْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ - رواه
ابن ماجه
Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya
Rasulullah SAW bersabda, “Idul Fitri adalah hari dimana kalian berbuka, dan
Idul Adha adalah hari dimana kalian berkurban.” (HR. Ibnu Majah)
Berdasarkan maknanya secara harfiah ini, dapat disimpulkan adanya dua
makna dalam menerjemahkan Idul Fitri, yaitu :
1. Iedul Fitri diterjemahkan dengan kembali kepada fitrah
atau kesucian, karena telah ditempa dengan ibadah sebulan penuh di bulan
ramadhan. Dan karenanya ia mendapatkan ampunan dan maghfirah dari Allah SWT.
2. Iedul Fitri diterjemahkan dengan hari raya berbuka,
dimana setelah sebulan penuh ia berpuasa, menjalan ibadah puasa karena Allah
SWT, pada hari Idul Fitri ia berbuka dan tidak berpuasa sebagai ungkapan syukur
kepada Allah SWT. [2]
Betapa bahagianya hati
seorang muslim apabila mendengar kabar bahwa dosanya telah diampuni oleh Allah.
Jikalau boleh diibaratkan, maka janganlah seorang muslim menjadikan taubatnya
di bulan Ramadhan seperti taubat makan cabe. Dimana ia berhenti makan cabe
ketika sudah kepedasan dan memakan cabe kembali setelah pedasnya hilang.
عَنْ خَالِدٍ بْنِ مَعْدَانٍ
قَالَ لَقَيْتُ وَاثِلَةَ بْنَ اْلأَسْقَعِ فِيْ يَوْمِ عِيْدٍ فَقُلْتُ تَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ فَقَالَ نَعَمْ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ قَالَ
وَاثِلَةٌ لَقَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَيْدٍ
فَقُلْتُ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ قَالَ نَعَمْ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا
وَمِنْكَ - رواه البيهقي في الكبري
Dari Khalid bin
Ma’dan ra, berkata, Aku menemui Watsilah bin Al-Asqo’ pada hari Ied, lalu aku
mengatakan, ‘Taqabbalallah Minna Wa Minka”. Lalu ia menjawab, ‘Iya,
Taqabbalallah Minna Wa Minka,’. Kemudian Watsilah berkata, ‘Aku menemui
Rasulullah SAW pada hari Ied lalu aku mengucapkan ‘Taqabbalallah Minna Wa
Minka’, kemudian Rasulullah SAW menjawab, ‘Ya, Taqabbalallah Minna Wa Minka’
(HR. Baihaqi Dalam Sunan Kubra). [3]
Seyogyanya pula, di hari
nan fitri tersebut kita saling bermaaf-maafan kepada keluarga, saudara, tetangga,
dan para sahabat. Marilah kita sambung kembali tali silaturahim. Janganlah
merusak persaudaraan karena suatu kesalahan, namun maafkanlah kesalahan demi
menyambung persaudaraan.
Sumber :

Komentar
Posting Komentar