I.
Pendahuluan
Tahun
2045, Indonesia memasuki usia 100 tahun Merdeka. Pada kondisi tersebut, Indonesia
diharapkan tampil sebagai negara yang maju dan kuat sebagaimana yang dicita-citakan
para pendiri bangsa[1],
serta memiliki pencapaian seperti pembangunan yang berpusat pada manusia,
pemanfaatan bonus demografi, perlindungan sosial yang komprehensif dan
berkelanjutan, serta terjaganya nilai-nilai keluarga dan hubungan yang erat
antar generasi.
Indonesia
merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Indonesia
menduduki peringkat ke-4 jumlah penduduk terbanyak di dunia setelah Cina, India
dan Amerika Serikat. Pada tahun 2016, penduduk Indonesia mencapai 4,4% dari
populasi dunia (CIA World Factbook, 2016). Berdasarkan data kependudukan, diprediksikan
pada 2015-2045 piramida penduduk Indonesia akan sangat ideal dengan penduduk
mayoritas berusia 25-45 tahun usia produktif. Dengan kata lain, mulai tahun
2045 Indonesia memiliki bonus sumberdaya manusia secara demografis yang sering
disebut sebagai bonus demografi.
Bonus
demografi yang dimiliki negara Indonesia merupakan modal yang berpotensi untuk
mendukung pembangunan nasional Indonesia. Dalam bidang ekonomi, pada tahun 2018
terjadi krisis ekonomi global yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi nasional
Indonesia hanya 5.2%. Nilai tersebut di bawah harapan pertumbuhan ekonomi nasional yang
ditargetkan
sebesar 5,4% per tahun. Dalam
perkembangannya, Indonesia dihadapkan pada revolusi industri 4.0 yang
bercirikan kemampuan membuat desain komunikasi mesin dengan peralatan atau disebut Internet of Things (IoT) serta kemampuan mesin untuk berkomunikasi dengan
orang atau
yang disebut Internet of People (IoP).
Sehubungan
dengan problematika diatas, maka diperlukan strategi industri 4.0 yang berperan
dalam peningkatan produktivitas dan berdampak pada peningkatan pertumbuhan
ekonomi nasional guna mewujudkan Indonesia Emas 2045.
II.
Pembahasan
Skenario Menuju Indonesia Emas
2045
Menuju Indonesia Emas tahun 2045, pemerintah melalui
Lembaga Katahanan Nasional (Lemhanas) telah menetapkan empat skenario masa
depan Indonesia. Dalam Triyono (2016), Skenario pertama yaitu skenario mata
air. Dalam skenario Mata Air, pada tahun 2045, Lemhamnas memproyeksikan Indonesia
akan diisi oleh generasi baru yang punya pandangan berbeda dengan pendahulunya.
Penduduk
Indonesia mulai didominasi
oleh generasi yang berpendidikan tinggi, menguasai teknologi komunikasi, aktif bermedia sosial, dan
terpapar dengan nilainilai global. Mereka adalah generasi yang berasal dari
keluarga biasa tetapi terpisah dari generasi
pendahulu. Menurut kelompok ini, mempertahankan
kesatuan NKRI harus lebih didasarkan pada prinsip integrasi fungsional dibandingkan dengan integrasi
historis.
Skenario kedua yaitu skenario sungai. Dalam skenario Sungai, disebutkan bahwa Indonesia
pada tahun 2045 telah mampu keluar dari
ancaman “failed state” karena telah menjadi negara industri yang cukup maju dengan struktur ekonomi “belah
ketupat” (jumlah kelas menengah lebih banyak
dibanding dengan jumlah penduduk miskin maupun konglomerat). Kemitraan
antara sektor besar, menengah, dan kecil berjalan baik; didukung oleh
infrastruktur, tata ruang, reforma agraria,
kebijakan perbankan, fiskal, moneter, dan pasar modal. Hasilnya, sektor agroindustri berkembang
dan terjadi peningkatan kemakmuran di pedesaan karena dukungan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih tinggi. Juga terjadi sinergi antara
semua pelaku ekonomi dengan pemerintah, parlemen, dunia riset dan pendidikan.
Menurut Suhardi Alius (Sekretaris Utama Lemhanas) skenario Sungai ini sejalan
dengan prediksi Mc Kinsey
(2012) bahwa Indonesia tahun 2023 menjadi negara dengan kekuatan ekonomi ke-7
dunia yang memiliki 135 juta orang kelas menengah dan 113 juta orang pekerja
berkemampuan. Namun akan menimbulkan dampak pada kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sosial serta korupsi yang
masih menjadi tantangan besar.
Skenario ketiga yaitu skenario Kepulauan. Dalam
skenario Kepulauan, disebutkan
bahwa pada tahun 2045 Indonesia tetap eksis di tengah-tengah peradaban modern
dunia sebagai bangsa yang multietnis, multikultur, bangsa pluralis dengan kadar
nasionalis yang tipis. Bangsa Indonesia makin tidak menjiwai kesepakatan dasar
bangsa yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945. Kekuatan militer makin besar
namun belum efektif dan efisien karena penguasaan teknologi kurang memadai.
Indonesia disibukkan dengan pengamanan poros maritim dunia dan eksplorasi bawah
laut yang dilakukan oleh negara lain di sekitar Indonesia. Regionalisasi
pengaturan operasional penerbangan wilayah udara Indonesia masih dikendalikan
oleh negara tetangga; termasuk kedaulatan Indonesia masih banyak diatur oleh
negara lain.
Skenario yang keempat yakni skenario Air Terjun, melalui skenario ini Indonesia di tahun 2045
sudah mulai dengan perencanaan pembangunan yang berbasis rendah karbon.
Pembangunan rendah karbon menjadi strategi utama untuk meningkatkan ketahanan
energi dalam negeri; sedangkan kedaulatan pangan pada masa sekarang dijadikan
fokus utama dalam mengelola ketahanan pangan tahun 2045. Pemerintah secara
bertahap meninggalkan praktek pengambilan keputusan berdasarkan pada keuntungan
dan kepentingan jangka pendek. Pembangunan dilakukan dengan memperhatikan
prinsip keberlanjutan (sustainability); sektor swasta berperan aktif
membiayai program-program pembangunan berkelanjutan melalui konsep “green
banking and green financing”.
Revolusi Industri 4.0
Menurut Hermann, et al. (2015) Sejarah
revolusi industri dimulai dari industri 1.0, 2.0, 3.0, hingga industri 4.0. Fase industri merupakan real
change dari perubahan yang ada.
Industri 1.0 ditandai dengan mekanisasi produksi untuk menunjang efektifitas dan efisiensi aktivitas
manusia, industri 2.0 dicirikan oleh produksi
massal dan standarisasi mutu, industri 3.0 ditandai dengan penyesuaian massal dan fleksibilitas
manufaktur berbasis otomasi dan robot.
Industri 4.0 selanjutnya hadir menggantikan industri 3.0 yang ditandai dengan cyber fisik dan
kolaborasi manufaktur. Istilah
industri 4.0 berasal dari sebuah proyek yang diprakarsai
oleh pemerintah Jerman untuk mempromosikan komputerisasi
manufaktur.
Lee,et al. (2013) menjelaskan, industri 4.0
ditandai dengan peningkatan
digitalisasi manufaktur yang
didorong oleh empat faktor:
1.
Peningkatan Volume Data, Kekuatan
Komputasi, Dan Konektivitas.
2.
Munculnya Analisis, Kemampuan, Dan
Kecerdasan Bisnis.
3.
Terjadinya Bentuk
Interaksi Baru Antara Manusia Dengan Mesin.
4.
Perbaikan Instruksi Transfer Digital Ke Dunia
Fisik, Seperti Robotika Dan 3d Printing.
Menurut Hermann
et al (2016) terdapat
empat desain prinsip industri
4.0.
1.
Interkoneksi
(sambungan),
yaitu kemampuan mesin,
perangkat, sensor, dan orang untuk terhubung dan berkomunikasi satu sama lain
melalui Internet of Things (IoT) atau Internet of People (IoP). Prinsip ini membutuhkan kolaborasi, keamanan, dan standar.
2.
Transparansi
informasi, merupakan kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan virtual dunia fisik dengan memperkaya model digital dengan data sensor termasuk analisis data dan penyediaan informasi.
3.
Bantuan
teknis yang meliputi kemampuan
sistem bantuan untuk mendukung manusia, kemampuan
sistem untuk mendukung manusia dengan
melakukan berbagai tugas.
4.
Keputusan
terdesentralisasi yang merupakan kemampuan sistem fisik maya
untuk membuat keputusan sendiri dan menjalankan tugas seefektif mungkin.
Peran Industri 4.0 dalam
Mewujudkan Indonesia Emas
Menteri Perindustrian mempercayai bahwa implementasi
Industri 4.0 dapat mempercepat target visi Indonesia emas 2045. Sebagaimana
yang disampaikan Menperin bahwa saat ini Indonesia telah memasuki one trillion dollar club dan perbaikan
ekonomi di tanah air menjadi bagian dari aspek pembangunan selam 15 tahun
terakhir [2].
Dengan didukung peningkatan bonus demografi lebih dari 30 juta, peningkatan
pertumbuhan konsumsi delapan kali lipat yang dibuktikan dengan sumbangan 55% dari
PDB, serta aspek investasi yang meningkat 13 kali lipat. Menperin meyakini
bahwa implementasi Making Indonesia yang sukses akan mampu mendorong
pertumbuhan PDB riil sebesar 1-2 persen per tahun, sehingga
pertumbuhan PDB per tahun akan naik dari 5 persen menjadi 6-7 persen pada
periode tahun 2018-2030. Dari capaian tersebut, industri manufaktur akan
berkontribusi sebesar 21-26 persen terhadap PDB pada tahun 2030.
Industri 4.0 dapat diimplementasikan pada proses produksi
pabrikan. Melalui teknologi industri 4.0 ini, dapat dijadikan sebagai tool pengendalian kualitass produk yang
dihasillkan. Yaitu melalui kecerdasan buatan berupa smart sensor. Sistem ini menggunakan teknologi Internet of Things (IoT) berupa komunikasi antara komputer master
dengan kamera digital. Melalui sistem ini, data standarisasi produk yang
terdapat di komputer master akan dihubungkan dengan kamera digital sebagai
sensor yang terpasang di dekat produk yang sedang diinspeksi. Pada sistem
tersebut terdapat lampu indikator
yang terpasang di dekat kamera yang menyala hijau sebagai tanda produk sesuai
dengan standarisasi. Apabila terdapat ketidaksesuaian, maka lampu indikator akan menyala merah dan
berkedip-data. Pada saat tersebut, produk yang tidak sesuai dengan standarisasi
akan langsung dideteksi dan direkap di data komputer perusahaan. Melalui
pengendalian kualitas yang berbasis industri 4.0 ini, perusahaan akan mendapat
manfaat berupa kemudahan mendeteksi kemungkinan terjaadinya produk cacat.
Melalui penerapan sistem smart sensor pada pengendalian kualitas, perusahaan mendapat
penjaminan mutu produk yang lebih besar serta dengan mudah dapat mendeteksi
kecacatan produk yang mungkin dapat terjadi. Melalui peningkatan kualitas
produk yang dimiliki, diharapkan penjualan produk perusahaan mengalami
peningkatan yang berdampak pada peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional dalam
rangka mewujudkan Indonesia Emas 2045.
III.
Penutup
Kesimpulan
Untuk mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045, dapat
didukung melalui peran Industri 4.0 yang memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) berupa smart sensor. Melalui teknologi tersebut
perusahaan dapat meningkatkan penjaminan mutu kualitas produk yang secara tidak
langsung berdampak pada peningkatan penjualan produk. Hal tersebut dapat
meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional yang pada hakikatnya merupakan usahan
mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Saran
Sebaiknya teknologi Industri 4.0 mulai diterapkan oleh
perusahaan-perusahan vital negara dan perusahaan lainnya.
Daftar Pustaka
Menperin.
100 tahun RI Merdeka, masuk lima besar
ekonomi terkuat dunia. Siaran Pers Kemenperin.
Hermann, M., Pentek, T., &
Otto, B. (2016). Design Principles for Industrie 4.0 Scenarios. Presented
at the 49th Hawaiian International
Conference on Systems Science.
Lee, J., Lapira, E., Bagheri, B.,
Kao, H., (2013). Recent Advances and Trends in Predictive Manufacturing
Systems in Big Data Environment.
Manuf. Lett. 1 (1), 38–41.
Suara
Pembaruan. Lemhannas luncurkan buku
‘Skenario Indonesia 2045’. 14 Maret 2016.
Triyono.
Menyiapkan Generasi Emas 2045. Seminar Nasional ALFA-VI, Unwidha Klaten, 5 Oktober 2016.
Komentar
Posting Komentar