Seminar Hasil Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN) Fakultas Keamanan Nasional Universitas Pertahanan Indonesia


Rabu, 10 April 2019. Fakultas Keamanan Nasional melaksanakan Seminar Hasil Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN) di gedung Auditorium Universitas Pertahanan Indonesia. Kegiatan Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN) telah dilaksanakan di Provinsi Bali pada 24 Februari- 1 Maret 2019 dengan tema “Kebijakan Pemerintah Provinsi Bali dalam Pengelolaan Sumber Daya Daerah untuk Mendukung Pertahanan Negara”.
Kegiatan seminar hasil KKDN dimulai pukul 08.30 dengan tari Puspanjali khas Bali yang dibawakan oleh mahasiswa prodi Manajemen Bencana. Setelah acara sambutan, kembali disuguhkan tari Janger yang dibawakan oleh mahasiswa prodi Damai dan Resolusi Konflik. Selanjutnya, penyampaian hasil KKDN yang dimoderatori oleh Bapak Wayan Nuryada, S.H., M.H. Pemaparan hasil KKDN pertama disampaikan oleh mahasiswa Ira Guslina Sufa pertama dari Prodi Damai dan Resolusi Konflik. Bahwasanya, masyarakat Bali memiliki prinsip hidup yang melandaskan pada keharmonisan dan keseimbangan yang bertumpu pada nilai-nilai Agama Hindu dan falsafah hidup Tri Hita Karana. Pada dasarnya, Bali mengenal dua jenis desa yaitu Desa Adat dan Desa Dinas. Desa Adat mengacu pada kelompok tradisional dengan dasar ikatan adat istiadat dan terikat oleh adanya tiga pura utama. Sementara itu Desa Dinas adalah  adalah desa dalam hukum nasional sesuai dengan batasan yang tersirat dan tersurat.

Kegiatan KKDN difokuskan pada peran desa Pakraman sebagai local wisdom dalam mencegah konflik di Bali. Pembahasan dilakukan mendasarkan pada teori pohon konflik dan teori eskalasi dan de eskalasi konflik dengan memetakan peta konflik yang terjadi di Bali sejak 2001 hingga sekarang. Penyelesaian konflik di desa Pakraman, dilakukan baik secara tradisional maupun modern. Secara tradisional, konflik diselesaikan dengan paswitran catur desa (persahabatan empat desa) dan pasidikaran (senasib-sepenanggungan). Penyelesaian konflik secara modern dapat dilakukan dengan Majelis Alit Desa Pakraman (Kecamatan), Majelis Madya Desa Pakraman (kabupaten/kota) dan Majelis Utama Desa Pakraman (Provinsi). Masyarakat Bali memiliki kearifan lokal yang efektif dalam mencegah meluasnya konflik. 
 Pemaparan hasil KKDN kedua disampaikan oleh mahasiswa Rivaldi Ananda Dwi Putra dari prodi Keamanan Maritim dengan topik pembicaraan Pemberdayaan Potensi Maritime Domain Awareness (MDA) dalam Mendukung Sinergitas Lembaga Keamanan Maritim. Pada dasarnya, permasalahan terjadi di desa nelayan berupa fluktuasi harga ikan tinggi, kurangnya infrastruktur melaut, kurangnya perhatian pemerintah terhadap TPI swasta dan lemahnya sistem keamanan. Melalui pendekatan MDA di Provinsi Bali, diperlukan sinergitas berupa kombinasi peran lembaga terkait terdiri atas Pemerintah Daerah, Pangkalan AL, Polairud, Pelindo III, KSOP dan ATLI dalam menghadapi ancaman bidang maritim pada masyarakat pesisir. Oleh karena itu, diperlukan peran akademisi pada penelitian lanjutan terhadap formulasi konsep MDA di Bali serta peran pemerintah dalam percepatan pembuatan RZWP3K, alokasi ruang pertahanan maritim dan peningkatan infrastruktur nelayan, serta  sinergitas lembaga berupa dalam pembangunan jaringan kerjasama operasional dan peningkatan kemampuan instansi maritim.  
Pemaparan hasil KKDN ketiga disampaikan oleh mahasiswa Dewi Apriliani dari prodi Manajemen Bencana dengan topik Kesiapsiagaan Pemerintah Daerah Provinsi Bali Dalam Penanggulangan Bencana. Indonesia sebagai negara rawan bencana, memiliki potensi kebencanaan termasuk di Bali sebagai destinasi wisata. Pulau Bali Berada dekat dengan dengan Subduksi Lempeng Indo-Australia dan Eurasia sehingga berpotensi terhadap tsunami, serta berada dalam jalur ring of fire sehingga berpotensi terhadap erupsi gunung. Kesiapsiagaan merupakan tindakan menghindari ancaman bencana dan mengurangi dampak akibat bencana melalui proses perencanaan, kesiapan dan mitigasi. Peran lembaga pemerintah, masyarakat dan dunia usaha diperlukan pada setiap tahapan meliputi fase pra-bencana, fase tanggap darurat serta fase pascabencana. Penyusunan kesiapsiagaan menghasilkan pengetahuan dan sikap, kebijakan dan panduan, rencana tanggap darurat, sistem peringatan dini serta mobilisasi bencana. Yang mana output kesiapsiagaan bencana tersebut berdampak pada keamanan nasional dan turut serta dalam mendukung sistem pertahanan negara.  
Usai pemaparan ketiga narasumber dilanjutkan dengan tari Bujang Ganong dan tari Merak yang dibawakan oleh mahasiswa prodi Keamanan Maritim. Selanjutnya, masing-masing pemapar mendapat tanggapan dari penanggap yaitu Bapak I  Gusti Agung Ngurah Sudarsana, S.H., M.H. sebagai Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Bali, Bapak Nugroho Christianto, S.E., M.M. selaku Regional Manager HC & GA Regional Bali Nusra, serta Bapak Drs. I Made Rentin, M.Si. selaku kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali. Salah satu tanggapan yang diberikan yaitu posisi Bali sebagai yang pertama dan satu-satunya provinsi yang menetapkan tanggal 26 sebagai hari simulasi bencana, perlu mendapat dukungan dan menjadi inspirasi provinsi-provinsi yang lain dalam mewujudkan kesiapsiagaan bencana. 
Kegiatan Seminar Hasil Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN) diakhiri dengan penyerahan cinderamata kepada penanggap dan moderator serta ditutup dengan tari Nusantara yang dibawakan oleh mahasiswa prodi Manajemen Bencana.

Komentar