Camping Adat dan Explore Kampung Baduy Luar di Daerah Ciboleger


Sabtu, 4 Mei 2019


     Seba Baduy merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan oleh masyarakat Baduy. Seba merupakan kegiatan penyerahan hasil tani dan bumi baik berupa pisang, padi dan aren kepada Pemerintah setempat, yakni ke Bupati Lebak dan Gubernur Banten. penentuan hari pelaksanaan Seba Baduy berdasarkan kesepakatan para pemangku adat (Puun)  di ketiga kampung Baduy Dalam. Perayaan Seba Baduy dilaksanakan setelah 3 bulan itu, berturut-turut menjalani bulan  suci Kawalu.  Dalam perayaan tersebut, masyarakat Baduy Dalam dengan memakai baju adat warna putih dan ikat kepala putih berjalan kaki dari kampung Baduy Dalam menuju kantor Bupati dan Kantor Gubernur sambil membawa seserahan. Sementara itu, masyarakat Baduy luar dengan memakai baju warna hitam dan ikat kepala hitam akan menggunakan truck untuk menuju Kantor Bupati, kemudian akan berjalan kaki bersama-sama dengan masyarakat Baduy Dalam dan masyarakat lainnya untuk menuju Kantor Gubernur sambil membawa seserahan.
        Perayaan Seba Baduy turut dimeriahkan oleh Forum Komunikasi Pecinta Alam Lebak (FKPAL) dengan melakssanakan "Camping Adat Seba Baduy 2019" di kawassan Camping Ground desa Bojong Menteng pada 3-4 Mei 2019. Camping adat ini diikuti oleh 200 peserta yang terdiri atas masyarakat Bnaten dan Masyarakat luar Banten seperti Jakarta, Bogor, Bekasi, Panandaran dan lain-lain. Kegiatan Camping Adat dimulai pada hari pertama dengan kumpul di meeting point, pendopo depan masjid agung. Kemudian perjalanan menuju camping ground, Desa Bojong Menteng. Setelah melaksanakan ishoma, perjalanan dilakukan menuju Baduy Luar serta explore Baduy Luar dan Baksos OPSIH. Pada malam hari, dilaksanakan Diskusi Budaya. Adapun pada hari kedua kegiatan diisi dengan fun games dan pembagian door prize serta briefing penutupan. setelah acara camping adat ditutup, peserta melakukan perjalanan menuju Ranca Gawe dan mengikuti Proses Pawai Seba Baduy di Rangkasbitung.
        Keberangkatan saya bersama rombongan Universitas Pertahanan (UNHAN) dilakukan sejak hari Jumat, 3 Mei 2019. Dalam Perjalanan diikuti oleh 17 Mahasiswa dengan menggunakan 3 mobil. terdapat sedikit kendala pada keberangkatan menuju lokasi camping ground, sehingga rombongan harus tiba di lokasi camping pada malam hari. Kami melaksanakan kunjungan ke kampung Baduy Luar pada keesokan harinya. Kedatangan kami ke Kampung Baduy luar diawali dengan ramah tamah ke rumah Jaro (Tokoh Adat) Kampung Baduy Luar di kawasan Ciboleger. Setelah itu, kami melakukan kunjungan dan observasi ke rumah warga-warga setempat.
      Hal menarik selama explore Baduy Luar adalah adanya sikap bela negara di kalangan masyarakat. Baduy Luar memiliki ciri khas seperti menggunakan pakaian dan ikat kepala warna hitam, tidak mengenakan alas kaki, serta lebih terbuka jika dibandingkan dengan masyarakat Baduy Dalam. Masyarakat Baduy Luar lebih terbuka terhadap teknologi dan mulai menggunakan kendaraan seperti motor serta alat komunikasi seperti handphone dan akun media sosial.
          Meskipun demikian, masyarakat Baduy Luar tetap mempertahankan tradisi adat dengan tidak bersekolah di Sekolah Umum. Namun mereka mendapat pembinaan dari tokoh adat terkait nilai-nilai dan pembelajaran kehidupan seperti berhitung, membaca dan menulis. Terkait dengan Sikap Bela Negara, masyarakat Baduy Luar mendapat bimbingan Wawasan Kebangsaan yang mengajarkan tentang Indonesia dan kepemimpinan yang terjadi di dalamnya, serta adanya keharusan untuk turut menjaga dan melindungi negara Indonesia. Yang mana hal tersebut dapat mereka lakukan dengan menjaga lingkungan alam tempat tempat tinggalnya. Masyarakat Baduy Luar memiliki pepatah Gunung ulah dilebur lebah ulah dirusak, yang berarti gunung jangan dihancurkan dan lembah jangan dirusak. Dengan demikian, mereka memiliki kewajiban untuk menjaga kelestarian lingkungan alam.

Komentar