Menelisik Kearifan Lokal Suku Baduy Melalui Seba Baduy 2019

Menelisik Kearifan Lokal  Suku Baduy


         Suku Baduy adalah kelompok kehidupan yang begitu patuh pada adat, ritual dan agama yang mereka anut. Nama masyarakat Baduy sebenarnya adalah Urang Kanekes. Mereka adalah suku bangsa Indonesia yang bertempat tinggal di Pegunungan Kendeng Kabupaten Lebak (Banten). Nama Baduy sendiri diambil dari nama sungai yang melewati wilayah itu yaitu Sungai Cibaduy. Mereka adalah keturunan Raja Pajajaran yang menolak agama baru yang masuk dibawa oleh Sunan Gunung Jati di abad 15 dan 16 yaitu agama Islam. Untuk menghindari perang, para punggawa dan senopati Pajajaran yang menolak Sunan Gunung Jati masuk hutan. Mereka memilih daerah perbukitan di kaki gunung Sanggabuana, 1000 mdpl di Banten Selatan. Mereka menolak masuk Islam dan menolak jadi pengikut Sunan Gunung Jati. Di sana mereka terus mengembangkan agama lama mereka di dalam belantara yang sulit diterobos.

        Suku Baduy terbagi dalam dua golongan yang disebut dengan Baduy Dalam dan Baduy Luar. Perbedaan yang paling mendasar dari kedua suku ini adalah dalam menjalankan pikukuh atau aturan adat saat pelaksanaannya. Jika Baduy Dalam masih memegang teguh adat dan menjalankan aturan adat dengan baik, sebaliknya tidak dengan saudaranya Baduy Luar.
        Masyarakat Baduy Luar sudah terkontaminasi dengan budaya luar selain Baduy. Penggunaan barang elektronik dan sabun diperkenankan ketua adat yang di sebut Jaro untuk menopang aktivitas dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Selain itu, Baduy Luar juga menerima tamu yang berasal dari luar Indonesia, mereka diperbolehkan mengunjungi hingga menginap di salah satu rumah warga Baduy Luar.
       Suku Baduy kental dengan adat istiadat serta kepercayaan yang diyakininya. Salah satu adat tersebut adalah ritual yang disebut dengan Seba Baduy. Seba Baduy menjadi kegiatan tahunan yang ditunggu baik oleh masyarakat Baduy maupun masyarakat luar sekitarnya.  Seba Baduy merupakan ritual seserahan hasil bumi serta pelaporan berbagai kejadian yang telah berlangsung selama setahun terakhir di Suku Baduy kepada Gubernur Banten. Ritual ini dilaksanakan pada 4 Mei 2019.
        Pada kegiatan Seba Baduy 2019 ini sukses diikuti oleh 1035 jiwa yang didalamnya termasuk 13 jiwa dari suku Baduy Dalam dengan mengenakan baju khas nya putih-putih dan lomat putih, serta ribuan jiwa suku Baduy Luar dengan baju adat warna hitam-hitam serta ikat kepala warna biru. Dalam ritual ini masyarakat Baduy dalam menempuh jarak enam jam dengan berjalan kaki sejauh 60 km dari suku Baduy Dalam menuju Pendopo Bupati Lebak, Rangkasbitung.

          Pada saat Seba, warga Baduy akan membawa hasil bumi dan tani selama satu tahun terakhir, seperti pisang, padi dan juga gula aren dari daerahnya menuju kantor Bupati. Selama perjalanan,

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kisah Sarip, Bocah Baduy Rela Jalan Kaki 60 Kilometer Demi Bertemu Bupati", https://regional.kompas.com/read/2019/05/05/07521891/kisah-sarip-bocah-baduy-rela-jalan-kaki-60-kilometer-demi-bertemu-bupati?page=2.
Penulis : Kontributor Banten, Acep Nazmudin
Editor : Robertus BelarminusKedatangan Warga Baduy disambut dengan festifal kebudayaan. Selanjutnya kegiatan tersebut diisi dengan ramah tamah dan makan babacakan (makan bareng).
masyarakat Baduy Dalam tidak diperkenankan menggunakan kendaraan apapun. Hal tersebut selaras dengan kepercayaan yang diyakininya. Sehingga, mereka harus berjalan kaki dalam menjalankan ritual ini. Sementara itu, masyarakat Baduy Luar akan naik truck bersama-sama untuk menuju lokasi Seba.
       Acara Seba Baduy membawa makna silaturahim antara masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar dengan Penggede (Pembesar) tokoh di wilayah setempat, yakni Bupati Lebak dan Gubernur Banten. Seba Baduy. kegiatan ini membawa pesan tersirat bahwa sudah selayaknya masyarakat menjaga kerukunan, perdamaian, serta kesatuan antar umat.

Komentar