Sabtu, 15 Agustus 2020, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Islam Negeri Sumatra Utara (UINSU) melaksanakan kegiatan Webinar Kuliah Pakar Peminatan Epidemiologi dengan judul “Peluang Vaksin Covid-19 Dalam Menanggulangi Wabah”. Seminar tersebut dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pukul 14.00 WIB hingga selesai. Dalam seminar ini menghadirkan Mayor Kes dr. Alima Sari S. M.Ked (Paru) SpP (Kepala Kesehatan Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional III) sebagai narasumber serta dimoderatori oleh ibu dr. Nofi Susanti, M.Kes selaku Dosen FKM UINSU Medan.
Kegiatan seminar diawali dengan pembukaan serta sambutan hangat dari Dr. Nefi Damayanti, M.Si selaku Wakil Dekan I FKM UINSU Medan. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi terhadap keberhasilan terlaksananya Webinar Epidemiologi tersebut yang diikuti oleh peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Baik dari Sabang sampai Merauke serta dari berbagai kalangan seperti civitas akademika, praktisi, maupun dari Lembaga-lembaga yang lain yang tercatat terdapat 37 instansi yang mengikuti seminar.
Webinar Kuliah Pakar Peminatan Epidemiologi ini mengangkat tema yang sedang hangat dibicarakan di tengah-tengah masyarakat. Yakni apakah vaksin covid-19 benar-benar dapat menanggulangi wabah pandemi corona yang saat ini telah menjangkit di 34 provinsi di Indonesia. Kemunculan virus corona pada Desember 2019 lalu berawal dari China tepatnya di Provinsi Wuhan. Virus ini termasuk jenis zoonotic yang berasal dari hewan, dimana virus hidup dan berkembang di tubuh hewan seperti unta, kucing dan kelelawar. Yang selanjutnya hewan dengan coronavyrus tersebut dapat menginfeksi ke manusia dan berpoliferasi di epitel saluran pernapasan. Menurut dr. Alima, “Novel coronavirus (2019-nCoV) adalah jenis baru coronavirus yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia”. Virus menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada manusia, penyakit yang dialami mulai dari flu biasa, hingga ke yang lebih berat seperti MERS dan SARS.
Awal mula penularan corona virus terjadi karena masyarakat Wuhan, China mengkonsumsi hewan-hewan liar sehingga menyebabkan berpindahnya virus dari hewan ke manusia. Di China, kemunculan corona virus mengakibatkan pemberlakukan lockdown di berbagai wilayah seperti Wuhan, Huangggang, Ezhou, Chibi, dan Zhijiang. Coronavirus baru sensitif terhadap pemanasan 56℃ selama 30 menit, 75% alkohol, disinfektan berisi chlorine, hydrogen peroxide, disinfectant, chloroform dan pelarut lipid yang terbukti dapat secara efektif menginaktivasi virus. Corona virus dapat hidup lebih dari 5 hari pada suhu 22‐25°C dan dengan kelembaban relatif 40‐45 %. Itulah alasan rasional mengapa masyarakat dianjurkan untuk berjemur pada jam 08.00-10.00 pagi agar virus corona yang menempel menjadi tidak aktif.
Arus masuknya virus covid-19, virus masuk dan menginfeksi keluarnya sitokin sehingga sel sel sitokin menumpuk. Kadar sitokin akan berpengaruh terhadap tingkat keparahan. Apabila daya tahan tubh kuat, jumlah sitokin sedikit dan penderita bisa sembuh. Namun apabila daya tahan tubuh lemah maka sitokin akan cepat bertambah dan kesembuhan penderita merupakan hal yang lebih kecil probabilitasnya. Penularan corona virus terjadi melalui via droplet pernapasan seperti batuk dan bersin. Itulah alasan mengapa masyarakat dianjurkan untuk memakai masker, agar tidak terkena penularan melalui batuk dan bersin yang jumlahnya bisa mencapai 3000 droplet. Corona virus juga dapat ditularkan melalui sentuhan seperti pada saat berjabat tangan atau dengan menyentuh benda yang terkena corona virus kemudian menyentuh mata, mulut dan hidung sebelum mencuci tangan. Hal inilah yang menjadi urgensi pentingnya mencuci tangan dengan bersih setelah beraktivitas.
Adapun vaksinasi Covid-19 pada saat ini belum ada. Semua vaksin masih dalam tahap penelitian. Bagaimanapun juga, vaksin yang sudah dibuat belum bisa dilempar kepada masyarakat sebelum terbukti klinik bisa menyembuhkan. Hingga saat ini, penelitian vaksin salah satunya dilakukan oleh perusahaan Biofarma yang memasuki uji klinis ke-3. Sehingga diperlukan banyak relawan untuk mendukung uji coba klinis vaksin tersebut. Terkait belum adanya vaksin Covid-19 tersebut, maka pengobatan terhadap penderita Covid-19 bersifat supportif dan disesuaikan dengan gejala yang ada. Beberapa tindakan yang dapat diberikan seperti memberikan antibiotik, antivirus dan vitamin. Beberapa jenis vaksin pneumonia yang bisa diberikan antara lain vaksin PCV13, vaksin PPSV23 dan vaksin Vaksin Hib. Adapun tindakan cegah dini yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan imunostimulan guna mengaktivasi system imun tubuh manusia, yang pada akhirnya untuk meningkatkan kekebalan tubuh tubuh terhadap virus corona. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai upaya seperti menjaga stamina tubuh dengan berolahraga teratur, meningkatkan pola bersih hidup sehat serta makan makanan bergizi.

Komentar
Posting Komentar